Renungan Lebaran 2011

Lebaran kali ini terasa istimewa. Kenapa? Karena cukup banyak yang dapat saya lakukan ketika mudik. Semenjak merantau dari Jogja, biasanya hanya sedikit yang saya lakukan ketika mudik. Namun tahun ini saya bisa reuni dan buka bersama dengan teman-teman sekelas saat SMA, yang alhamdulillah ramai yang datang (lebih dari setengah) mengingat di usia sekarang sebagian besar sudah bekerja dan padat jadwalnya; bisa berkendara ke Jawa Tengah dan Jawa Timur mulai dari Pati lalu ke Bojonegoro, hingga ke Pulau Madura; bisa keliling-keliling kota Jogja, juga bisa silaturahmi ke tempat “teman” saya.

Kalau diingat tidak terasa sudah 5 tahun lebih meninggalkan kota Jogja, sejak kelulusan SMA. Rasanya baru kemarin masih bermain-main dengan teman-teman, mbolos ke kantin dan lap basket, nongkrong di bimbel, dsb. Well, time really goes on I guess. Mau tidak mau kita harus menerima kenyataan bahwa kita tidak lagi duduk di bangku SMA, dimana kita bisa masih ga mikir dan bisa seenaknya bermain. Seusia ini, sudah waktunya bekerja maupun menuntut ilmu ke jenjang yang lebih tinggi, tidak sedikit juga yang sudah berkeluarga dan mempunyai keturunan.

Yah dari beberapa kejadian dan obrolan yang terjadi di lebaran tahun ini, saya mempunyai beberapa poin untuk direnungkan. Saya yakin semua orang pun juga mungkin pernah mengalami.

1. The difference of being a realist and pessimist is really close.
Saya dari dulu merasa idealnya seseorang itu bersikap di antara posisi optimis dan realistik. Agar survive, kita harus bersikap realistik. Untuk bisa maju ke depan dan berkembang, kita harus bersikap optimis dan mempunyai banyak mimpi. Agar tidak hanya menjadi seorang pemimpi, tentu kita perlu bersikap realistik, juga sebaliknya, kita perlu optimis dan bermimpi agar kita dapat berkembang sebagai individu dan tidak selalu berada pada posisi yang sama.

Masalah muncul ketika kita didera banyak masalah, banyak harapan kandas. Lama kelamaan kita cenderung akan selalu bersikap “main aman” atau bersikap realistik. Bila kita lama berada di posisi tsb, tanpa mempunyai mimpi yang tinggi dan keinginan yang kuat, lama-lama kita akan terjerembab menjadi seorang pesimis.

I used to be an optimist, I am not afraid of any challenges. Namun seiring berjalannya waktu, tidak terasa saya lebih dekat menjadi seorang yang pesimis dibandingkan optimis. Saya baru sadar ketika “teman” saya menimpali pembicaraan saya yang bernada pesimis dan rendah diri. Heck, I don’t even realize it. Mungkin kita sendiri juga tidak merasa, mungkin orang lain lah yang bisa merasakan perubahan yang ada pada diri kita. So are you a pessimist or an optimist?

2. Reminiscing is fun, but we have to let them go to be able to move forward.
Mengenang atau pun bernostalgia, mengingat-ingat kesenangan maupun kejayaan di masa lampau memang menyenangkan, tapi kita tidak bisa terus berpatokan pada itu. Puas pada keadaan sekarang maupun yang telah lalu adalah salah satu tanda menuju kemunduran. Ingat, puas itu berbeda dengan bersyukur. Mengingat bagaimana kita memenangkan sesuatu, mengenang bagaimana kita menikmati waktu-waktu kita bersama seseorang, semua memang terasa menyenangkan. But if you don’t continue your life and chasing bigger goals, you will be stuck.

3. It’s not being patient that you should be trying, but how you can extend your limit of patience.

Semua orang tentu harus sabar. Kita tahu kesabaran adalah salah satu kunci kesuksesan. Tapi bukan “menjadi orang yang sabar” yang harus kita kejar, melainkan bagaimana kita menambah batas kesabaran kita. Kita tidak bisa berharap dari menjadi orang yang gampang emosi langsung menjadi orang yang sabar. Tapi kita bisa menjadi orang yang sabar dengan perlahan-lahan menambah batas kesabaran kita.

Sebagai contoh: si Fulan orang yang gampang emosi, bila orang mengejeknya dia langsung naik pitam dan mengajak berkelahi. Bagaimana si Fulan bisa berubah menjadi lebih sabar? Tentu tidak bisa kita hanya berharap keesokan harinya dia tidak marah ketika diejek. Semua perlu waktu, dan waktu itu lah yang menjadi kunci untuk memperoleh kesabaran. Mungkin bisa dengan si Fulan melatih dengan memberi toleransi dari tingkatan ejekan kepadanya secara perlahan-lahan dan bertingkat, maupun cara lainnya.

4. Do not press someone who is already under pressure.
Dulu saya orangnya tidak mau tahu. Kalo ada orang salah pasti saya tekan atau saya marahi. Tapi belakangan saya mulai sadar, apakah bisa kita memperbaiki keadaan dengan menambah tekanan kepada orang yang sudah berada dalam tekanan? Semua orang pasti punya batas, dan ketika batas itu dilewati tentu kita bisa snap. Karena itu bila menemui orang yang melakukan kesalahan ketika dalam tekanan, alangkah baiknya bila kita membuatnya lebih tenang terlebih dahulu. Dengan kepala tenang, orang pasti bisa berbuat lebih maksimal.

Yah cukup sekian renungan yang saya tuangkan pada tulisan ini. Sebetulnya masih banyak yang bisa dituangkan tapi kita sambung lain kali saja 🙂

Advertisements

2 thoughts on “Renungan Lebaran 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s