Mudahnya Suatu Ide Ditiru dan Entry Barrier

Jadi kemarin teman saya, Puja, bertanya ke saya.

Puja: “Pan, lu tau startupnya si Arif?”

Gw: “Tau. Yang travel. Kenapa?”

Puja: “Mirip bukan sih sama SocialTrip?”
[Note] SocialTrip ini produk yang lagi mau kita kembangin untuk ikutan lomba Evernote DevCup)

Gw: “Beda ah. (mikir sejenak) Ya sama2 tentang travel sih, emang direct competitor tapi produknya beda”

 

Dari situ, gw jadi inget tentang betapa mudahnya punya ide yang mirip. Gw juga inget di salah satu talkshow Guy Kawasaki, seorang audience pernah bertanya mengenai paten miliknya yang ditiru oleh temannya. Di akhir jawabannya, Kawasaki berkata “Kalau produk atau idemu bisa ditiru dengan hanya mendengarkan atau melihat sekali, mungkin produk atau idemu bukan produk atau ide yang bagus”.

Tidak sekali saya mendengar perkataan “Idea is worthless. Execution is gold”. Saya sepakat sekali dengan perkataan itu. Semua orang bisa bermimpi, bisa punya ide yang sama, tapi apakah mereka mampu melakukan eksekusinya dengan lancar? Tentu hanya segelintir orang yang bisa melakukannya.

Sedikit cerita dari pengalaman saya. Bulan Oktober tahun lalu saya dan tim PvJ (Puja, Tito, Aqsath) menang hackathon Sparxup dengan sebuah produk pemesanan taxi bernama Taxify. Saat kami mengikuti kompetisi, nama Uber sama sekali belum pernah saya dengar sebelumnya. Uber ini adalah sebuah aplikasi pemesanan taxi juga yang sangat besar di US. Dan ternyata ide produk kami itu sangat mirip dengan Uber (walaupun business modelnya berbeda).

Poin saya adalah: Ide atau mimpi itu sangat tidak mustahil bahwa ada saingan ide lain yang mirip. Jika ada yang dengan mudah meniru ide atau produkmu, berarti entry barriernya yang terlalu rendah. Produk harus kita kembangkan jauh lebih advanced agar kompetitor juga susah meniru atau mengejar kita. Coba sekarang lihat Google, males kan kalau disuruh bersaing dengan mereka yang teknologinya sudah jauh di depan? You need to create a great entry barrier for your products so competitors cannot easily emulate you.

By the way, beberapa saat yang lalu, Bluebird merilis aplikasi pemesanan mobile untuk armadanya. Beberapa alurnya sangat mirip dengan Taxify. Walaupun sangat mirip tentu masih berbeda. Bedanya kalo di Taxify: tidak terikat pada satu taxi, bisa memesan langsung ke driver, driver menggunakan smartphone instead of mesin GPS, ada paperless receipt. Our idea is more advanced in a way if I could say so.

Advertisements

6 thoughts on “Mudahnya Suatu Ide Ditiru dan Entry Barrier

  1. Ada juga pan cara supaya entry barriernya gede meskipun produk kitanya dead simple. Contohnya twitter. How hard would it be to create a functionally similar product like twitter? Gw yakin dengan sekill programming tingkat dewa ky lo ga sulit buat bikin twitter clone yg sangat sophisticated dengan UX yg ciamik.

    Tp dilemanya adalah, meskipun twitter bs disaingi dr sisi teknologi, tp entry barrier untuk bersaing melawan twitter sangatlah besar. Kenapa? Krna dia udah memonopoli pasar microblogging. Kalopun ada yg bikin another sophisticated microblogging platform, it would be hard as hell to win over twitter’s gigantic userbase.

    So entry barrier is not only determined by the quality of the product/idea. Dalam kasus twitter, dia bikin entry barrier dengan memonopoli pasar sejak dini. In the other words: market the product early on! Most ppl often tend to overlook this aspect.

    Cara lain buat mempertinggi entry barrier adalah dgn mengajukan paten.

    • Wih ada dewa anwari.
      Sepakat dengan poin entry barrier tidak hanya ditentukan dengan kualitas war.

      Tapi kembali lagi, apa iya monopoli bisa dilakukan bila tidak ada kualitas yang baik?
      Pada kasus twitter, it’s not simply because you have gigantic user base that renders you impenetrable.
      Kalo dilihat ke belakang, value apa yang twitter tawarkan?
      Hey we can tell the world a 140 char message called tweets.
      But, have you ever heard of chats? emails? or even Facebook?
      Semua media di atas punya user base lebih besar dari Twitter ketika itu.
      Tapi karena twitter punya produk, konsep yang menarik, berkualitas, maka perlahan-lahan user base dia bertambah.

      Another example would be LINE.
      Di saat user base Whatsapp, BBM, dan other messaging app sudah besar, buat apa bikin another messaging app?
      Tapi buktinya LINE bisa menggebrak dengan kualitas produknya, dengan konsep non-text messagenya (sticker) etc.

      Poin kedua, mengenai paten, kalau kita mengira dengan memiliki paten membuat kita defensible, we’re deluding ourselves.
      First of all, mengurus paten bisa makan 5-6 tahun.
      Do we have the time as a startup? No.

      Oke sekarang let’s say kita berhasil mengajukan paten dan ada big company melanggar paten kita.
      So we can sue them for money right? The answer is No. Why?
      Do we have the time and money to out-litigate them? Out-litigate Google or Microsoft?
      Mengenai paten mungkin bisa dilihat di video berikut: http://youtu.be/HHjgK6p4nrw?t=24m54s

      Nice discussion!

      • ampun dewa zipan. ane hanya gatel aja lagi males ngerjain tugas xD

        “apa iya monopoli bisa dilakukan bila tidak ada kualitas yang baik?”
        bisa dong. pernah make twitter sebelum 2010 kan? seberapa sering lo liat fail whale Pan? 😉 .. i have to say that quality wasn’t on twitter’s favor at that time… hal ini jg dialamin ama tumblr kok. this one is my most favorite site at the moment, and sometimes it experiences occasional hiccups. but it doesnt stop me from using the service.

        oya, lo ga bisa bandingin twitter ama fb/email/chat dong, karna mereka fungsinya berbeda, bidangnya berbeda, dan nyelesain masalah yg berbeda pula. lo masih pake social network (fb), email (gmail), chat(ym), ama microblogging(twitter) kan? lo pake keempatnya buat fungsi yg berbeda2 kan? perbedaan itulah yg diliat twitter buat mengeksploitasi opportunity baru, sehingga entry barrier dia di bidang microblogging sangat rendah.

        “Pada kasus twitter, it’s not simply because you have gigantic user base that renders you impenetrable.”
        again, i didnt say that twitter’s impenetrable; it’s just that the barrier to enter twitter’s market is too damn high, because the whale is currently sailing all seven seas. someone will sure have a very rough time should he compete against twitter only relying on ‘better quality’ ..

        instead, we could take a look at LINE’s strategy. dia masuk di bidang multiplatform phone messaging app; kompetisi directnya ama whatsapp, kakaotalk, tango, ama viber. does LINE offer a better technical, visual, or performance quality than any of those? sometimes good, often times worse.

        tapi ada sesuatu yg bikin LINE beda ama mereka. LINE punya stiker. and that one makes LINE competes with them on its value, not on quality. bayangin kalo LINE cuman nawarin messaging app tanpa stiker, kayaknya orang2 belum tentu make LINE.


        kl masalah paten, memang gw ga rekomend itu, makanya ga gw bahas jg :p … fungsi paten ini menurut gw pribadi cuman buat meningkatkan ‘perceived entry barrier’ si kompetitor, supaya mereka mikir “ah kl gw bikin keripik pedes bisa dituntut ama maicih nih. mending ga usah aja deh…”
        would patent stop someone from making another keripik pedes? probably not. but would it make them think twice? most likely, yes. and in that case, patent increases the entry barrier a bit, isnt it? 😉

      • Nope twitter is different from facebook, emails, or chats.
        Tapi saat itu apa yang orang pake untuk berkomunikasi di internet?
        Hampir semua orang pake email, pake chat.
        I would say they are direct competitors, because we can see them as substitute products for each other.p

        Hanya setelah orang pakai mereka baru sadar “hey i can use this for abc”, suatu niche needs yang mereka belum sadar sebelumnya.
        You can say it solved microblogging needs only after the service existed.
        About LINE, you’ve just verified my point 😀

        We agreed that quality alone is not the entry barrier though.
        New concept, difference in product or even target market could be a barrier if it helps you scale really fast

      • substitute for each other, really? try to send all your emails via twitter for a day, then 🙂

        regarding LINE, yes i agree… but to come up with the idea of having stickers, especially when a ‘dominant design’ of mobile messaging app exists in the market, is hard as hell like finding a needle in haystack. high entry barrier, again.

        nice discussion kk zipan!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s