Open Source Is Free, but Not Free

Sebelum membahas tentang bagaimana perusahaan dengan produk open source mendapatkan revenue, kita bahas sejenak apa itu produk open source. Kebanyakan software sebelum awal milenium ke-3 sifatnya adalah berbayar dan isi codenya tidak dapat dilihat apalagi diutak-atik orang lain. Pada tahun 1983 muncullah faham open source, namun pergerakan ini baru mulai terasa getol sejak akhir milenium ke-2. Software open source adalah software yang source code-nya (kalo untuk kacamata awam mungkin bisa dianalogikan bahan baku kali ya) dilisensikan dengan open source license dan pemiliknya dapat mendistribusikan source code software tsb ke siapa saja untuk dilihat, dikembangkan, dan digunakan. Hal ini tentu sangat berdampak pada perkembangan software, terlebih pada komunitas developer (programmer) since open source is free. For more info, just read the wiki http://en.wikipedia.org/wiki/Open-source_software

Kembali ke bahasan utama.

Sebenarnya dulu saya heran, kok ada ya orang baik yang udah capek-capek nulis code lalu disebar-sebar tanpa meminta sepeser uang pun. Gile baik bener ya ūüėÄ Yang lebih mengherankan lagi adalah adanya perusahaan yang produknya open source, gimana dapet uangnya tuh?

Ok, so let me clarify. Free, in English, dapat berarti bebas atau gratis. Dalam context Open Source Software (OSS), free yang dimaksud adalah bebas, bebas diapa-apain, bukan gratis. Hampir semua software open source memang gratis (not sure, let me know kalo ada yang berbayar), tapi idenya di sini adalah code softwarenya terbuka untuk semua orang sehingga orang-orang bebas untuk menggunakan dan mengembangkannya.

Business model untuk OSS yaitu dengan mengambil untung dari biaya pelatihan, support, maupun maintenance, bukan dari penjualan atau pemakaian software tersebut. Let’s take an example.

Misal kita menggunakan database MongoDB untuk perusahaan kita. Seiring dengan berkembangnya perusahaan kita, tentu makin kompleks kebutuhan yang kita perlukan serta makin besar data yang kita handle. Ketika perusahaan menjadi besar, suatu saat akan tiba titik dimana kita tidak bisa hanya menggunakan produk open source tsb dan kita harus punya kerjasama dengan pengembang produk tsb. Kenapa? Agar bila tiba-tiba shit happens kita dapat meminta bantuan dari pihak pengembang produk dengan cepat, supaya masalah teratasi. Kecepatan dan security inilah yang kita perlukan. Tentu kita dapat mengakali dengan memiliki tim rockstar developers, tapi tidak semua perusahaan mau atau merasa perlu memiliki developer rockstar (super jago).

Jadi intinya, open source is free (bebas), not free (gratis)

Advertisements

Don’t Let the Bozos Grind You Down

Note: I got the title from a point in Guy Kawasaki’s presentation in 2006 (the video can be watched at¬†http://www.youtube.com/watch?v=jSlwuafyUUo)

 

Jadi, menurut Kawasaki, there are two types of bozos who would say that your business will not succeed:

1. Losers

2. Orang dengan kapasitas lebih tinggi dari kita (contoh: direktur PT. X, founder from a bigger startup, investor, dll)

 

Tipe pertama tentu tidak berbahaya. Kenapa kita harus percaya dengan losers?

Tipe yang berbahaya adalah tipe kedua. Why? Karena ketika orang dengan kapasitas lebih tinggi dari kita bilang bahwa bisnis kita tidak akan berhasil, kita mungkin tempted untuk percaya dengan perkataannya dan ultimately quit startup kita.

So let me tell you my stories.

November 2011, saya mengikuti Telkomsel Startup Bootcamp dengan Camok. Banyak orang-orang yang lebih berpengalaman di situ, baik startup founders, investors, dll. Ide kita saat itu bernama Share & Bid, sebuah situs dimana brand bisa menawarkan barangnya untuk dilelang dengan maksimum harga senilai harga jual asli. Konsepnya mungkin sedikit mirip dengan daily deals, bedanya kalo daily deals mengubah bentuk promosi suatu brand dengan harga miring, Share & Bid mengubahnya dengan bentuk permainan lelang.

When we told people about our idea, we got pessimistic feedback. Particularly, I remembered that Anthony Liem said that the idea seems like outdated product and he thinks that bidding will not be accepted in Indonesian people culture. Okay, got it. Tentu saya respek dengan opini orang lain tapi yang saya sayangkan adalah feedback tersebut demoralize us dan let us drop the idea. Padahal, given the trend at that time, sangat masuk akal untuk masuk ke market tsb. Ini adalah contoh bozo tipe kedua yang berhasil “grind us down”.

 

Oktober 2012, ada expo Colosseum yang diadakan HMIF di ITB. Saat itu saya mengisi stand dan menunjukkan produk kami hasil pivot dari Share & Bid yang telah kami rilis 3 bulan sebelumnya, Dissee. Dissee adalah sebuah marketplace untuk produk kreatif semacam aksesoris, tas, dan stationery.

As I had expected, pengunjungnya kebanyakan mahasiswa. I remembered there was one guy who came to our stand and were trying the product. Dari nada dan pertanyaan yang dia lontarkan, saya dapat kesan bahwa yang dia pikirkan most likely seperti ini “Situs eCommerce kan udah banyak? Buat apa bikin lagi? Apa bedanya ini sama yang lain?”. Oh dear fellow, I could explain it to you in million ways but you will not grasp it firmly anyway since you were being cynical. Ini adalah contoh bozo tipe pertama. Impresi yang kita terima adalah “why should I listen to this guy?”.

 

Masih di Oktober 2012. Saat itu kami habis menang Hackathon Sparxup dengan Taxify, sebuah aplikasi mobile pemesanan taxi. Ada salah satu partner dari sebuah VC, CyberAgent Venture. Saya ingat mereka bilang bahwa Taxify ini sangat potensial, tapi challenge terbesarnya adalah membutuhkan bukti untuk bisa diaktualisasi dengan bekerjasama dengan perusahaan-perusahaan taxi. Few months later, Bluebird bikin aplikasi yang mirip. Another type-2 bozo.

 

Maret 2013, saya mengikuti konferens WebInTravel sebagai finalis idea pitch dengan produk kami, Tripboard. Tripboard, adalah sebuah sebuah collab tools yang bisa membantu orang merencanakan trip mereka dengan teman-teman secara online. Unfortunately, we lost to some guy with a meta-search engine product from Malaysia. Setelah acara, saya bertanya pada VP Marketing Agoda, Timothy Hughes. Dia bilang, produk kita solve a real problem, tapi kendalanya adalah seberapa sering orang plan a trip? Mungkin hanya sekitar sekali dalam setahun. More importantly, he is pessimistic with how we can reach the user. Ads? No way, since it will burn lots of money, and we cannot compete with those big guys in term of promotion. Sekali lagi, feedback itu membuat moral kita turun dan pengembangan aplikasi pun terhambat.

 

Dari video yang sudah saya sebutkan di atas, Kawasaki berkata bahwa anyone can became a bozo. Bahkan dia sendiri pernah menolak tawaran menjadi Yahoo CEO ketika Yahoo masih startup karena mengira Yahoo tidak akan sukses. Contoh lain misalnya direktur IBM percaya kala itu hanya ada lima komputer yang dibutuhkan pada pasar komputer. Now? everyone has one or more computers.

Hal yang penting adalah, dan terutama meninggalkan kesan yang dalam pada diri saya, kita tidak usah patah arang ketika orang bilang produk kita jelek, bisnis kita tidak akan berhasil. Selama kita melihat bahwa produk kita memang berpeluang, dan memang ada kebutuhan orang akan hal itu, kita harus tetap maju dan tidak mengacuhkan opini miring orang lain. In the end, kalau kita berhasil maka kita sukses membuktikan diri kita, tapi bila kita tidak berhasil juga no harm done anyway. So it’s better to keep moving forward.

Cheers!

 

Mudahnya Suatu Ide Ditiru dan Entry Barrier

Jadi kemarin teman saya, Puja, bertanya ke saya.

Puja: “Pan, lu tau startupnya si Arif?”

Gw: “Tau. Yang travel. Kenapa?”

Puja: “Mirip bukan sih sama SocialTrip?”
[Note] SocialTrip ini produk yang lagi mau kita kembangin untuk ikutan lomba Evernote DevCup)

Gw: “Beda ah. (mikir sejenak) Ya sama2 tentang travel sih, emang direct competitor tapi produknya beda”

 

Dari situ, gw jadi inget tentang betapa mudahnya punya ide yang mirip. Gw juga inget di salah satu talkshow Guy Kawasaki, seorang audience pernah bertanya mengenai paten miliknya yang ditiru oleh temannya. Di akhir jawabannya, Kawasaki berkata “Kalau produk atau idemu bisa ditiru dengan hanya mendengarkan atau melihat sekali, mungkin produk atau idemu bukan produk atau ide yang bagus”.

Tidak sekali saya mendengar perkataan “Idea is worthless. Execution is gold”. Saya sepakat sekali dengan perkataan itu. Semua orang bisa bermimpi, bisa punya ide yang sama, tapi apakah mereka mampu melakukan eksekusinya dengan lancar? Tentu hanya segelintir orang yang bisa melakukannya.

Sedikit cerita dari pengalaman saya. Bulan Oktober tahun lalu saya dan tim PvJ (Puja, Tito, Aqsath) menang hackathon Sparxup dengan sebuah produk pemesanan taxi bernama Taxify. Saat kami mengikuti kompetisi, nama Uber sama sekali belum pernah saya dengar sebelumnya. Uber ini adalah sebuah aplikasi pemesanan taxi juga yang sangat besar di US. Dan ternyata ide produk kami itu sangat mirip dengan Uber (walaupun business modelnya berbeda).

Poin saya adalah: Ide atau mimpi itu sangat tidak mustahil bahwa ada saingan ide lain yang mirip. Jika ada yang dengan mudah meniru ide atau produkmu, berarti entry barriernya yang terlalu rendah. Produk harus kita kembangkan jauh lebih advanced agar kompetitor juga susah meniru atau mengejar kita. Coba sekarang lihat Google, males kan kalau disuruh bersaing dengan mereka yang teknologinya sudah jauh di depan? You need to create a great entry barrier for your products so competitors cannot easily emulate you.

By the way, beberapa saat yang lalu, Bluebird merilis aplikasi pemesanan mobile untuk armadanya. Beberapa alurnya sangat mirip dengan Taxify. Walaupun sangat mirip tentu masih berbeda. Bedanya kalo di Taxify: tidak terikat pada satu taxi, bisa memesan langsung ke driver, driver menggunakan smartphone instead of mesin GPS, ada paperless receipt. Our idea is more advanced in a way if I could say so.

Teknologi dan Lapangan Kerja

Beberapa waktu yang lalu saya ngobrol dengan teman saya sesama mahasiswa S2 Teknik Industri ITB. Teman saya ini punya bisnis di bidang logistik dan akomodasi. Dari hasil perbincangan itu saya menangkap kesan bahwa usaha di bidang Non IT dapat dengan mudah menyerap tenaga kerja yang tidak memiliki kemampuan spesifik pada suatu bidang.  Banyak contoh kasusnya, namun coba saya contohkan dari penelitian teman saya ini saja. 

Jadi teman saya ini meneliti tentang biodiesel mobile dari bahan baku biji karet di Indonesia. Kenapa mobile? Karena logistik di Indonesia sangat buruk, sehingga daripada membuat pabrik ke tempat-tempat terpencil, lebih baik pabriknya (menggunakan sebuah vehicle yang dapat memproduksi biodiesel) saja yang dibawa ke sana. Dia mencoba mengembangkan model bisnis supaya masyarakat tempat bahan baku biodiesel tersebut juga dapat diserap tenaga kerjanya sehingga sama-sama dapat menikmati untungnya. Tenaga kerja yang dibutuhkan sederhana, cukup bapat mengumpulkan biji karet yang tersebar pada kebun karet.

Sepintas saya berpikir, usaha di bidang IT justru mencoba mengurangi pekerjaan yang semula perlu dikerjakan manusia. Bukannya menyerap tenaga kerja, malah mengurangi lapangan kerja. Namun setelah berpikir beberapa saat kemudian, pikiran tersebut dapat dipentalkan. 

IT bukan mengurangi pekerjaan yang dikerjakan manusia, namun membantu meringankan beban pekerjaan manusia. Tentu dengan adanya otomatisasi ada beberapa pekerjaan yang dapat dihilangkan, namun orang-orang yang semula didelegasikan mengerjakan pekerjaan tersebut sekarang dapat mengerjakan pekerjaan yang lain. Instead of hiring 2 people to do task A & B, we can automate task A and let those 2 people do task B and task C (another potential task) to elevate the business.

Saat menulis tulisan ini, saya kemudian teringat satu sesi pada acara Web In Travel ketika terdapat pertanyaan dari murid akademi kepariwisataan yang mempertanyakan bahwa industri online travel dapat mematikan usaha offline sehingga mengurangi lapangan kerja mereka. Saya ingat Gaery dari Tiket.com menjabarkan kepada murid akademi tersebut bahwa mereka tetap membutuhkan orang-orang yang memiliki keahlian di bidang pariwisata. Dari sana dapat dilihat bahwa teknologi itu selalu mengubah dunia dan makin banyak pekerjaan yang lama digantikan pekerjaan baru tanpa mengurangi lapangan kerja.

Web In Travel Indonesia 2013 – A Great Experience

So last Wednesday, March 27th 2013, there was an event held by Web In Travel and its local partner in Indonesia, Kibar Kreasi. Web In Travel (WIT) itself is an Asian Pacific community who regularly hold a worldwide conference in Singapore. For the first time, this year WIT came to Indonesia and held a little conference plus startup competition. More info about WIT can be read at their site http://www.webintravel.com/

Few days before the event, we only got a complimentary ticket for the event, since our submission was rejected says the notification email I received. But one night before the event, Leonard from Kibar Kreasi called me and said that there was a misunderstanding and Tripboard should have been one of the finalists. He asked me to send him a presentation that night, which I have not prepared. In the end, after 3-4 hours, I barely made the presentation and sent it to him.¬†By the way, Tripboard is one of Paris Van Java team’s products which was originally created for Startup Asia Bandung Hackathon (Yeah, we won some of the challenges). You can read more about it at http://startupasia.techinasia.com/bandung2012/startup-asia-bandung-hackathon-the-winners/

The event was held at Pullman Hotel, Jakarta, and only a small numbers of people came, mostly foreigners, which gives an exclusive aura (the ticket was actually quite pricey, 2.5 Р3.5 millions IDR). There were several discussion panels and presentations. The first panel was consisted of Amit Saberwal, Chief Business Officer of MakeMyTrip; Peter Lee, Senior Director of Market Management Asia Pacific of Expedia; Timothy Hughes, Vice President Marketing of Agoda; and Venkat Chandramoleshwar, Business Development Manager-APAC of Google. The discussion was about the general overview of online travel space.

The second panel was about the condition in Indonesian. The panelist were Marc Steinmeyer, President Director & Founder of TAUZIA Hotel Management; Adi Satria, Regional Director of Sales, Marketing & Distribution of Accor; Brata Rafly, Commercial Director of Mandala; and Prih Harwadi, AVP Product Development, Cards Business Division of PT Bank Negara Indonesia (Persero)Tbk. This discussion gave us insight about the condition of travel industry in Indonesia and customer behaviors regarding the credit cards usage for tourism. One thing to note is that the market for online travel in Indonesia was still in infancy stage, and only about to take off right now.

Afterwards,¬†Henky Prihatna,¬†Head of Travel of Google Indonesia¬†presented about the digital habits of Indonesian customers. He explained that, in his version, there is five stages of travels: dreaming, planning, booking, experiencing, and sharing. He shared lots of numbers, like percentage of media used for planning, how many Indonesian shares on social media (8 of 10 Indonesians share their trip on social media), etc. It is too bad I couldn’t quite get them. He also told that over one billions query is searched per month by Indonesian people using Google.

Next panel was about the trends how Indonesian searching, planning, and booking travel. The panelists were Eric Tjetjep, CEO of Eztravel.co.id; Yusuf Ijsseldijk, CEO & Managing Director of Go Indonesia; William Newley, CEO of Rajakamar International Group/ Rajakamar.com; and Graham Hills, Managing Director of Wego Indonesia. It was followed with a conversation with Andy Zain, Founder of Mobile Monday and Director of Founder Institute about startup scene and overview in digital opportunities in Indonesia. Since I decided to visit my friend, Aqsath, who was hospitalized the night before because of scarlet fever, I missed these sessions.

When I returned, there was a presentation from Kei Shibata, CEO of Venture Republic, Japan, about the impact of mobile. Kei, who owns meta search engines hotel.jp and travel.jp, said that now more that 30% of the traffic comes from mobile devices. It was then followed by a presentation from Gaery Undarsa, Co-founder & Managing Director of Tiket.com, who talks about his company and how mobile traffic is getting higher but the actual transactions are still done in desktops. 

Next panel was discussed by¬†Morris Sim,¬†CEO & Co-founder of Circos Brand Karma and¬†Aaron Hung, Director of Partnerships, APAC of TripAdvisor.¬†They talked about digital marketing to grow hotel business. One of the methods is using TripAdvisor who can provide reviews for the hotel’s sites. Later, I talked with Circos General Manager, Ivan Lam,¬†who explained that Circos is providing their hotels clients social media analysis along with strategies. Besides hotels, airplanes companies like AirAsia is supported by them.

Next panel was about using social media and community to shape travel. The panelists were Marischka Prudence, Travel Blogger; Kristupa Saragih, fotografer.net; Dennis Adishwara, Layaria; Amalla Vesta, Liburan Lokal. It was then followed by a panel about Activities and Rentals opportunities in travel. The panelists were Ken Frohling, Vice President, Business Development of Viator andTurochas Fuad, CEO, Travelmob. Viator is one of the market leader in activity space, while Travelmob is a Singapore startup which focus on short-term rentals like AirBnB. Turochas or called T, is actually an Indonesian who then studied at Singapore.

Before the startup pitch, there was a panels about distribution drivers discussed by Chris Gribble, Vice President & General Manager, APAC & ME Hospitality Solutions of INFOR; Agnes YH Tan, Regional Director, Direct Sales & Loyalty of Accor Asia; Roland Jegge, Satria Pinandhita, Director of Business Development, South-east Asia of Sabre Hospitality Solutions,  followed by a presentation by Fritz Demopoulos, CEO of Queen’s Road Capital.

The last event is The WIT Indonesia Start-Up Pitch¬†where six startups presented their ideas to the judges. Panel of judges is consisted of¬†Andy Zain, Director of Founder Institute;¬†Brett Henry, Vice President Commercial of Abacus International;¬†Fritz Demopoulos, CEO of Queen’s Road Capital;¬†Morris Sim, CEO of Circos Brand Karma;¬†Kei Shibata, CEO of Venture Republic, Japan;¬†Timothy Hughes, Vice President Marketing of Agoda; and¬†Turochas Fuad, CEO of Travelmob.¬†Competing with us were: 5mile, Explorind, Ikut-ikut, SatuLagi, and Ulin Ulin.¬†

In the end, the winner was LagiSatu.com which is a Malaysian startup who focuses on meta search engine, specifically with Halal filters. You can read more about it at http://www.webintravel.com/news/halal-metasearch-lagisatu-wins-wit-indonesias-startup-pitch_3669

Blok Konten sebagai Strategi Pemasaran

Sambungan dari Komplain via Social Media

Sebagai customer, menurut saya pribadi, pop up seperti itu sangat tidak mengenakkan. Bayangkan saat seseorang membuka website saja sudah lama, masih disuruh menunggu setengah menit setiap kali mengakses konten. Perhatikan poin setiap kali mengakses konten, artinya setiap kita berpindah halaman, hal tersebut pun berulang kembali. Bagaimana dengan orang-orang yang tidak ingin berlangganan? Pasti sangat tidak nyaman dengan hal tersebut.

Tapi, bila kita lihat dari sisi bisnis, strategi tersebut justru sangat brilian. Dapat dilihat dari image yang diposting bang Denny berikut bahwa jumlah subscriber bernambah secara signifikan.

su4

Strategi seperti ini pernah saya temui di situs Fab.com. Saat pertama dibuka mereka membuka untuk umum dan orang dapat menikmati konten tanpa harus mendaftar. Suatu ketika, mereka menutup konten mereka untuk member dan hanya orang yang punya invitation yang dapat mendaftar menjadi member, walau kita dapat request invitation per 24 jam. Surprisingly, kepopuleran situs ini justru meningkat pesat, dan akhirnya mereka membuka kembali konten mereka kepada publik.

Akhir kata, strategi dengan mengeblok konten ini, menurut saya, dapat dibilang risky. Bila kepopuleran situs mengalahkan ketidaknyamanan yang harus dirasakan pengguna, maka situs tersebut pasti akan survive. Sedangkan bila sebaliknya, sekali lagi menurut saya, situs tersebut bisa saja mati.