Blok Konten sebagai Strategi Pemasaran

Sambungan dari Komplain via Social Media

Sebagai customer, menurut saya pribadi, pop up seperti itu sangat tidak mengenakkan. Bayangkan saat seseorang membuka website saja sudah lama, masih disuruh menunggu setengah menit setiap kali mengakses konten. Perhatikan poin setiap kali mengakses konten, artinya setiap kita berpindah halaman, hal tersebut pun berulang kembali. Bagaimana dengan orang-orang yang tidak ingin berlangganan? Pasti sangat tidak nyaman dengan hal tersebut.

Tapi, bila kita lihat dari sisi bisnis, strategi tersebut justru sangat brilian. Dapat dilihat dari image yang diposting bang Denny berikut bahwa jumlah subscriber bernambah secara signifikan.

su4

Strategi seperti ini pernah saya temui di situs Fab.com. Saat pertama dibuka mereka membuka untuk umum dan orang dapat menikmati konten tanpa harus mendaftar. Suatu ketika, mereka menutup konten mereka untuk member dan hanya orang yang punya invitation yang dapat mendaftar menjadi member, walau kita dapat request invitation per 24 jam. Surprisingly, kepopuleran situs ini justru meningkat pesat, dan akhirnya mereka membuka kembali konten mereka kepada publik.

Akhir kata, strategi dengan mengeblok konten ini, menurut saya, dapat dibilang risky. Bila kepopuleran situs mengalahkan ketidaknyamanan yang harus dirasakan pengguna, maka situs tersebut pasti akan survive. Sedangkan bila sebaliknya, sekali lagi menurut saya, situs tersebut bisa saja mati.

Advertisements

Komplain via Social Media

Jadi kemarin saya mendapat pengalaman unik, atau bisa juga dibilang bodoh.
Sebetulnya kejadian ini bisa dilihat dari beberapa sisi, namun pada kali ini saya ingin menyoroti mengenai sisi PR, atau lebih spesifiknya Customer Support.

Belakangan ini social media sudah menjadi sarana untuk berinteraksi dengan pelanggan dan tidak sedikit yang sengaja mengalokasikan resource CS di bidang social media. Pada contoh kasus ini, saya coba mencontohkan pengalaman saya dengan HaloBCA.

Jadi tidak sampai satu bulan yang lalu (28 Desember 2012), saya mengalami kesulitan ketika menggunakan HaloBCA, yaitu tidak dapat mendaftarkan rekening tujuan transfer dari bank lain via ibanking. Setelah ditelusuri ternyata regulasi BCA per 20 Desember 2012 memang berubah. Di situs ibanking BCA, petunjuk mengatakan saya harus menelepon HaloBCA untuk melakukan hal tsb.

Ketika saya telpon, ternyata ada proses verifikasi yang sangat ribet. Ditanya nama, alamat, ttl, no rekening, nama ibu, jenis tabungan, no atm, kartu atm bernama atau tidak, no seri token dan sebagainya. Setelah lebih dari 8 menit menelepon, proses verifikasi ini tidak kunjung berakhir hingga akhirnya saya kesal dan tidak jadi menggunakan layanan HaloBCA untuk mendaftarkan rekening tujuan transfer.

Dari sana, saya menulis pengalaman tidak mengenakkan saya tsb di twitter.
bca

Tidak sampai 15 menit, akun twitter @HaloBCA menimpali tweet saya. Dari sana saya berdiskusi panjang lebar dengan CSnya.

halobca

halobca2

halobca3

halobca4

Dari sini saya mendapat persepsi bahwa CS HaloBCA itu sangat serius. Tidak hanya sigap (saya tidak mention akunnya) namun juga sabar menanggapi customer. Dapat dilihat bahwa saya mengawali posting dengan tag kasar dan mengakhiri diskusi dengan sarkasm.

Pengalaman saya satu lagi baru saja saya alami kemarin. Jadi salah satu teman saya tiba-tiba berkomentar bahwa salah satu website yang dia buka ada pop up yang mengganggu, menghalangi konten selama 30 detik. Setelah saya cek ternyata benar, ada pop up yang meminta kita untuk berlangganan.

su3

Dari situ saya iseng mengirim komplain ke akun twitter yang bersangkutan dan mendapat balasan seperti ini.

su

su2

Surprisingly, ternyata bukannya permohonan maaf atau ajakan mendaftar secara halus yang saya terima, namun balasan yang dapat dibilang cukup tegas atau assertive. Selain itu, bang Denny memberi sedikit bocoran mengenai hasil dari strategi pemasaran situs ini dengan cara memberi pop up seperti itu, nantinya akan kita bahas lebih lagi di post ini.

Mungkin memang saya keterlaluan dalam pemilihan kata, tapi hal tersebut saya rasa cukup wajar ditemui pada sebuah komplain pelanggan. Justru kebanyakan malah lebih kejam 🙂

Apapun itu, saya tidak menge-judge kedua pihak yang saya jadikan contoh. No offense intended, ini hanya luapan kesal sejenak. Malah saya ingin minta maaf bila ada yang tersinggung. Saya hanya ingin sedikit sharing mengenai kedua pengalaman unik dan bodoh saya ini 😀

Intuisi Wanita – Berkah atau Kesialan?

Mungkin post ini ga nyambung dengan post-post sebelumnya. Maklum, saya moody sekali kalo urusan menulis sesuatu, apalagi kalo lagi sibuk xD

Oke, kali ini saya ingin menyempatkan membahas tentang intuisi wanita. Lebih spesifik lagi yang ingin dibahas adalah gimana sih kalo pria tapi punya intuisi wanita. Intuisi wanita di sini mungkin saya terjemahkan menjadi ketepatan membaca perasaan orang lain. Kebanyakan pria kurang peka dengan yang namanya perasaan, sedangkan kebanyakan wanita sangat peka sama namanya perasaan. Hal itu yang saya sebut dengan intuisi wanita pada konteks tulisan ini. Yang akan saya bahas berikut mungkin lebih berkaca pada diri saya sendiri, jadi silakan bila ada yang beropini lain mungkin bisa di-share juga.

Berkaca pada pengalaman terdahulu, saya sering kali bisa menebak ataupun membaca perasaan orang lain, dalam hal ini pada kasus urusan hati. Sering kali saya bisa membaca “prospek” ketika mendekati seorang cewek, apakah prospeknya bagus karena respon-respon positif yang diberikan si doi ataupun ketika prospeknya kurang cerah. Yah tidak jarang juga sih salah baca untuk kasus-kasus anomali. Contohnya pernah suatu kali cewek yang saya dekati responnya positif tapi belakangan baru ketauan kalo dia udah ada cowoknya.

Selain kasus-kasus seperti itu, most of the time, saya bisa membaca respon dari seseorang dari beberapa kali interaksi saja. Kelebihannya mungkin yang saya rasakan yaitu bila tiba-tiba teman kita dari semula biasa-biasa saja tiba-tiba reaksinya positif. Kalo kita ingin teman tersebut tetap menjadi teman, bukan pacar, di sinilah kita bisa sedikit menghindar dari teman tsb. Seiring berjalannya waktu, tentu dia akan menyadari hal tersebut dan kembali menjadi teman biasa saja.

Namun sering kali intuisi ini kepakenya ketika ada berita buruk. Saya ambil contoh misal saya tahu ketika mantan saya (saat masih pacaran) tiba-tiba minta putus sebelum dia bilang minta putus. Padahal kalo dipikir-pikir saat itu tidak ada masalah berarti. Contoh lain lagi misalnya saya tahu ketika “mantan” saya (orang yang beda) putus dengan cowoknya yang padahal sudah lama pacaran, hanya dari sebuah status galau di facebook. Ketika saya tanya ada apa sih, dia bilangnya ga ada apa-apa, tapi beberapa bulan kemudian eh jadian sama orang lain (artinya dugaan saya bener xD ).

Nah dari sini, saya jadi mikir. Intuisi ini hal positif atau negatif kalo dimiliki seorang pria? Kalo si pria ini kurang optimis dan berani, bisa saja dia langsung mundur teratur ketika dia sense sesuatu yang buruk. Padahal prinsip pria itu seharusnya hajar dulu, galau belakangan. Tembak, tembak duluan, diterima kaga mikirnya ntar aja, toh kalo kita ga nembak hasilnya sudah pasti ga mungkin jadi pacar. Prinsip ini sedikit bisa dianalogi ketika kita jadi entrepreneur. Kalo kita ga coba, hasilnya sudah pasti gagal, tapi kalo kita mencoba sesuatu, pasti ada peluang berhasil walaupun kecil.

So, the question remains. Intuisi wanita: Berkah atau Kesialan?

Trip to Bangkok-Pattaya (2)

(continued from Part 1)

So we woke up in the morning, after only 3-4 hours sleep. We took a bath then strolled down the block near our hostel to grab something to eat. Aloy and Ical bought omelette rice and chicken strips for only 35 THB, while me and Harbag bought sandwiches for only 18 THB. I dunno what was inside, looked like nuggets and eggs, but I wasn’t very sure. I know pork when I see it, and in Bangkok almost every meat is made of pork so I was avoiding meat. I also bought 4 pieces of soft cakes for 48 THB.

Then we went to Surasak BTS and headed to National Stadium BTS, the westernmost BTS, to go to Wat Po. FYI Wat Po, Wat Phra Kaew, Grand Palace, and Wat Arun are located very near to each other. Wat Arun is located across the river (Chao Phraya river) of Grand Palace, and Wat Po and Wat Phra Kaew is just north of Grand Palace. After we got off the BTS, we took a taxi to Wat Po. Funny enough, all taxi drivers that we stopped, didn’t know the name Grand Palace, or they just can’t speak English very well. But our best bet was they have different name for Grand Palace in Thai, so when we mentioned Wat Po, they knew it immediately.

So we went to Wat Po temple. The entrance fee was 100 THB. There were some interesting pagodas and Buddha statues in there. Here’s me and the Reclining Buddha. It was so enormous, I couldn’t imagine how they could make it.

Reclining Buddha

There were also emerald buddha status, but it was forbidden to take photos. Here’s more Buddha statue:

I even did a snailing pose combined with Ical’s planking pose LOL

From Wat Po, we went to Grand Palace which was just across the street. There were lot of guys who said that the place was still closed and opened at 1PM (it was only 11AM), but thanks to Aloy who read it beforehand that there were a lot of scams that say Grand Palace is closed and offer to give you a tour to other nearby temples. When we reached the gates, it was actually written there that it opens at 8 AM 😀
Lots of people wouldn’t recognized that it’s actually open because the only gate for public entrance is the northern gate and since the area is so big, most people would’ve missed that.

So then we headed out to Grand Palace. The entrance fee was rather expensive which was 400 THB and it’s only charged to foreign tourists. Inside there were temples and museums.

There were also a western-style building and a park in the upper-right of the area.

After that we got out from there and went to nearby market to find something to eat. I ate a fried fish there. What’s interesting was that fish dishes there are usually had the bone taken out before they were cooked, unlike in Indonesia where you still find the bone in the middle of the fish.

Once we had filled our stomach, we headed to Siam Paragon mall, the biggest mall in Bangkok. It sure was impressive, and you know what’s more impressive? It’s the girls! LOL There were lots of attractive and cute girls in there. Well, when I said cute, I was referring to Chinese girls. As you may know, Thai people is consisted of Chinese-descendants people, local (Malay) people, and Western-local descendants people. And mostly the attractive one are the Chinese-and western descendants. Since one of my companions, I won’t mention it 😀 , is a leg-fetish, he went in awe there looking at those girl legs LOL.

FYI Siam mall is actually consisted of 3 different malls: Paragon, Center, and Discovery. Paragon is the biggest and the most exclusive.

After that, we went back to the hostel to clean up. Since I had this backache, I took a bath and a nap, while the other headed out to get a foot massage. Around 8PM we rejoined and went to China Town near Pahurat. Bangkok China Town is known for it’s seafood. We were having difficulties finding a taxi to get there since most of them didn’t want to go there since it’s jammed, so we had to get a Tuk Tuk.

Upon reaching China Town, we realized why the taxi drivers wouldn’t want to take us there. It was crowded and there was a festival in the streets. Food stands everywhere, from meals, drinks, snacks, even fruits. We just picked a random stands and ordered our meals. We ordered 3 table dishes and they were great! What’s even better was, it only cost us 450 THB (around 135k IDR).

PS: Sorry, we had eaten some part before I took the photographs XD

Once we finished the main course, we turned our attention to the Durian stand. We had a sticky-rice Durian and sticky-rice Mangoes.


The good thing about those durians is that they’re not as stink as Indonesian durians which have strong fragrant. The durian felt a bit weak, maybe because it’s not durian season, but the mangoes tasted fantastic. They were just about to get ripe and they were incredibly juicy. Yes juicy, it’s not oranges or watermelons, it’s mangoes!

Well, after we had finished the dinner, we took a Tuk Tuk to Hua Lamphong Station to catch a MRT, the subway. We took off at [Hidden]

[/Hidden]

About 1:30AM we reached our hostel, and that concludes the second day.

(Continue to Part 3)

Trip to Bangkok-Pattaya (1)

(continued)

Few days before departure, we got a bad news. Puja couldn’t make it due to his job, part-time job actually.
But you know, developer world we’re going through are tough. You’ll never know when there’s an important deployment rescheduled 😛

So Thursday noon, the four of us gathered in Soekarno-Hatta airport. We waited on the executive lounge in Terminal 3, thanks to Ical and his corporate Accenture that provided the facilitiy for only 1 IDR using Amex (LOL). While we were waiting, we played Monopoly deals and had meals.

departure

Then, we boarded to the plane and took off. The flight took about 3 hours, and in 8:30 pm we have landed at Suvarnabhumi Airport.

inside Suvarnabhumi Terminal

After immigration checks, we headed to the city via Airport Rail Link to reach the nearest Bangkok BTS Sky Train. FYI Bangkok has 4 mass transportation: ARL, BTS, BRT, MRT. Both ARL and BTS are elevated-rail trains, BRT is a busway, and MRT is a subway.

We took the Phaya Thai Express in ARL, to get to Phaya Thai where we changed to BTS. The fee for Phaya Thai Express was 90 THB (around 27k IDR) and the fee to get to Surasak BTS from Phaya Thai BTS was 30 THB (around 9k IDR). We headed to Surasak because our hostel, Saphaipae Hostel, is near there.

After reaching Saphaipae, we paid the rooms for 2 nights for 720 THB (around 216k IDR). So cheap right? You think it will be bad-facilitated hostel? Well, think again after you see these:

LobbyDorm RoomShared BathroomLaundry

Later, we went to Pat Pong district where we tried to find something to eat. There’s a night market and some sexy clubs in Pat Pong, but we weren’t interested since we’re so starving. Instead we had dinner in one of the street stands which sold grilled fishes for 60 THB. There were also coconut jellies for snacks, too bad I hadn’t taken photographs. The lady who owns the stand was very kind. We had some conversations while we had the meal. She even carved the fishes and feed Ical a few times 😀 Perhaps she took a liking to him haha 😀

After we had dinner, we took a Tuk Tuk, a local cab, to head to our hostel. Those Tuk Tuk drivers surely like to speed though, since we had to watch ourselves not to be thrown off the cab LOL 😀
Tuk Tuk

Well, that’s concluded our first day.

(Continue to Part 2)

Trip to Bangkok-Pattaya (Pre)

Finally, after 6-months planning, we’re going to Bangkok!
Actually it was my and Puja’s idea at first, after we watched Laddaland and impulsively want to meet Punpun and Natasha LOL 😀
In case you don’t know Punpun and Natasha, they’re Thai actresses.
Punpun (Suthatta Udomsilp) played in Laddaland, and she’s so cute that I wanna meet her (sorry I had cute girls fanatic syndrome).
The latter, Natasha Nauljam, is the one Puja wanted to meet. She played in Suckseed and she’s incredibly stunning (I know how you feel, Ja :D)

From there we gathered travel companions, channels, info, until we bought plane tickets. In the end, only 5 people (me, Puja, Aloy, Harbag, and Ical) decided to buy the tickets. Even early planner like Titz and Camok eventually decided not to buy due to other concerns. So we bought the tickets, we reserved the hotels via agoda.com and planned the itinerary using tripadvisor.com. For those who don’t know Agoda.com, it’s an online worldwide hotel reservation site. It has great discounts and vast database. Meanwhile TripAdvisor.com is a travel site where you can gather information on places, what-to-dos, etc.

So we bought AirAsia tickets for Bangkok-Jakarta and vice versa and reserved accommodation in Bangkok and Pattaya. And the date is Jan 19-22 2012.

(Continue to Part 1)

Renungan Lebaran 2011

Lebaran kali ini terasa istimewa. Kenapa? Karena cukup banyak yang dapat saya lakukan ketika mudik. Semenjak merantau dari Jogja, biasanya hanya sedikit yang saya lakukan ketika mudik. Namun tahun ini saya bisa reuni dan buka bersama dengan teman-teman sekelas saat SMA, yang alhamdulillah ramai yang datang (lebih dari setengah) mengingat di usia sekarang sebagian besar sudah bekerja dan padat jadwalnya; bisa berkendara ke Jawa Tengah dan Jawa Timur mulai dari Pati lalu ke Bojonegoro, hingga ke Pulau Madura; bisa keliling-keliling kota Jogja, juga bisa silaturahmi ke tempat “teman” saya.

Kalau diingat tidak terasa sudah 5 tahun lebih meninggalkan kota Jogja, sejak kelulusan SMA. Rasanya baru kemarin masih bermain-main dengan teman-teman, mbolos ke kantin dan lap basket, nongkrong di bimbel, dsb. Well, time really goes on I guess. Mau tidak mau kita harus menerima kenyataan bahwa kita tidak lagi duduk di bangku SMA, dimana kita bisa masih ga mikir dan bisa seenaknya bermain. Seusia ini, sudah waktunya bekerja maupun menuntut ilmu ke jenjang yang lebih tinggi, tidak sedikit juga yang sudah berkeluarga dan mempunyai keturunan.

Yah dari beberapa kejadian dan obrolan yang terjadi di lebaran tahun ini, saya mempunyai beberapa poin untuk direnungkan. Saya yakin semua orang pun juga mungkin pernah mengalami.

1. The difference of being a realist and pessimist is really close.
Saya dari dulu merasa idealnya seseorang itu bersikap di antara posisi optimis dan realistik. Agar survive, kita harus bersikap realistik. Untuk bisa maju ke depan dan berkembang, kita harus bersikap optimis dan mempunyai banyak mimpi. Agar tidak hanya menjadi seorang pemimpi, tentu kita perlu bersikap realistik, juga sebaliknya, kita perlu optimis dan bermimpi agar kita dapat berkembang sebagai individu dan tidak selalu berada pada posisi yang sama.

Masalah muncul ketika kita didera banyak masalah, banyak harapan kandas. Lama kelamaan kita cenderung akan selalu bersikap “main aman” atau bersikap realistik. Bila kita lama berada di posisi tsb, tanpa mempunyai mimpi yang tinggi dan keinginan yang kuat, lama-lama kita akan terjerembab menjadi seorang pesimis.

I used to be an optimist, I am not afraid of any challenges. Namun seiring berjalannya waktu, tidak terasa saya lebih dekat menjadi seorang yang pesimis dibandingkan optimis. Saya baru sadar ketika “teman” saya menimpali pembicaraan saya yang bernada pesimis dan rendah diri. Heck, I don’t even realize it. Mungkin kita sendiri juga tidak merasa, mungkin orang lain lah yang bisa merasakan perubahan yang ada pada diri kita. So are you a pessimist or an optimist?

2. Reminiscing is fun, but we have to let them go to be able to move forward.
Mengenang atau pun bernostalgia, mengingat-ingat kesenangan maupun kejayaan di masa lampau memang menyenangkan, tapi kita tidak bisa terus berpatokan pada itu. Puas pada keadaan sekarang maupun yang telah lalu adalah salah satu tanda menuju kemunduran. Ingat, puas itu berbeda dengan bersyukur. Mengingat bagaimana kita memenangkan sesuatu, mengenang bagaimana kita menikmati waktu-waktu kita bersama seseorang, semua memang terasa menyenangkan. But if you don’t continue your life and chasing bigger goals, you will be stuck.

3. It’s not being patient that you should be trying, but how you can extend your limit of patience.

Semua orang tentu harus sabar. Kita tahu kesabaran adalah salah satu kunci kesuksesan. Tapi bukan “menjadi orang yang sabar” yang harus kita kejar, melainkan bagaimana kita menambah batas kesabaran kita. Kita tidak bisa berharap dari menjadi orang yang gampang emosi langsung menjadi orang yang sabar. Tapi kita bisa menjadi orang yang sabar dengan perlahan-lahan menambah batas kesabaran kita.

Sebagai contoh: si Fulan orang yang gampang emosi, bila orang mengejeknya dia langsung naik pitam dan mengajak berkelahi. Bagaimana si Fulan bisa berubah menjadi lebih sabar? Tentu tidak bisa kita hanya berharap keesokan harinya dia tidak marah ketika diejek. Semua perlu waktu, dan waktu itu lah yang menjadi kunci untuk memperoleh kesabaran. Mungkin bisa dengan si Fulan melatih dengan memberi toleransi dari tingkatan ejekan kepadanya secara perlahan-lahan dan bertingkat, maupun cara lainnya.

4. Do not press someone who is already under pressure.
Dulu saya orangnya tidak mau tahu. Kalo ada orang salah pasti saya tekan atau saya marahi. Tapi belakangan saya mulai sadar, apakah bisa kita memperbaiki keadaan dengan menambah tekanan kepada orang yang sudah berada dalam tekanan? Semua orang pasti punya batas, dan ketika batas itu dilewati tentu kita bisa snap. Karena itu bila menemui orang yang melakukan kesalahan ketika dalam tekanan, alangkah baiknya bila kita membuatnya lebih tenang terlebih dahulu. Dengan kepala tenang, orang pasti bisa berbuat lebih maksimal.

Yah cukup sekian renungan yang saya tuangkan pada tulisan ini. Sebetulnya masih banyak yang bisa dituangkan tapi kita sambung lain kali saja 🙂

Strangers on a Train

No, it’s not like that old movie back in the 50s. I simply want to talk about my train trip recently. When I first moved to Bandung 5 years ago, I often traveled by train from Jogja to Bandung, or vice versa. During my trip, I usually talked, at least try to talk, to my seat companion if I traveled by myself. But later, I just felt reluctant to start a conversation with my seat companion, who’s a stranger to me. Well, yesterday is an exception.

Like usual, I took Lodaya train from Jogja to Bandung at 9.30 pm. As I put my luggage on the compartment and sat, a girl tried to sit beside me. She was carrying a big case, and asked me to put hers at my side of the seat. Since the seat was a bit cramped, I offer to put it on the compartment above. As the train started to move, I took my cell and started browsing the news. At this point, I still felt reluctant to initiate a conversation.

Later, I felt bored reading the articles so I asked her a very usual and unimportant question, just as a sign of hospitality. I asked her if she was going to go to Bandung, and whether she lives there. She said yes. Then I asked again if she was having a trip to Jogja, since we both boarded the train from Tugu Station. She said no, and told me that she was studying at Jogja. Curious, I asked her where did she study. She answered that she has been studied at SMM (Sekolah Menengah Musik), which I obviously didn’t know. She told me that it’s a SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) and it specialized on music. She went to Jogja because there is no SMM in Bandung, which impressed me that a girl at such a young age wandered to other city to chase her dream. Well, Jogja is known for it’s education, but music is a less popular study there. Starting to feel dumb, I stopped my question while I browsed on my cell trying to get information on SMM. Then it was her turn to asked me. She asked what I was going to do in Bandung and I told her that I studied at ITB and just finished my study.

I became more curious and then I asked her where did she live in Jogja. She told me that she lived in a boarding house near her school. As a fellow boarding house tenant, I asked her how much does it cost so I could compare it to Bandung’s. She told me that the one that she lived in now cost 450 thousands rupiahs per three months. She then told me that before that she lived in a house that cost 130 thousands rupiahs a month. From there she then started to tell me stories: why she moved from the first house, how she broke a lot of things starting from her room lamp, TV, cellphone, to her laptop. Suddenly we became like friends out of nowhere. She even held back her urge to order a dinner just to finish her story. I don’t know if she’s the loquacious type, but surely we talked like we knew each other.

After a long chat, more than an hour, she decided to buy a dinner. After that, we each took a rest until the train arrived at Bandung Station in the next morning. We went to the exit and went our separate ways after that. In the end, we never introduced ourselves, despite I know her name from listening to her stories.

1-4 Quick Hitter Offense

Formasi 1-4 ini dirancang untuk tim yang mempunyai shooter mid-range dan long-range yang baik. Dengan strategi penyerangan ini kita bisa menyerang dengan sangat cepat dengan quick-shot sehingga membuat musuh terlambat mengantisipasi. Strategi ini pernah saya terapkan saat Home Tournament IF tahun 2010 pada angkatan saya yang kebetulan tidak ada pemain bigman untuk bermain inside. Pola ini juga saya terapkan pada tim basket putri karena sangat sederhana, dan membutuhkan pergerakan pemain yang minim.

Berikut ini formasi awal dari 1-4:

Pemain (1) sebagai point guard berada di wilayah point. Pemain (2) dan (3), sebaiknya pemain yang jago 3point shot, berada di posisi wing. Sedangkan pemain (4) dan (5) berada di depan masing-masing samping garis free-throw. Pemain (4) dan (5) membelakangi dan melakukan blocking pada defender X1 dan X2 sembari mengulurkan tangan ke atas untuk meminta operan.

Opsi-1: Double Cutter

Bola dioper kepada salah satu dari pemain di tengah, dalam contoh di bawah ini pada pemain (5). Begitu mendapat bola, (5) membalikkan badan menghadap ke ring dengan bola ditahan di atas (tanpa dribble maupun menurunkan posisi bola).

Begitu (5) mendapat bola, (2) dan (4) melakukan cutting ke arah ring. Bila X5 ketarik untuk menjaga (4) maka (5) mengoper ke (2), dan sebaliknya. Jika X5 tidak bergeming, bola dioper ke (2) yang lebih sedikit terjaga daripada (4).

Opsi-2: Wing

(1) mendribble bola ke salah satu sisi dan mengoper pada pemain sayap, pada contoh di atas pada (2). Di sini ada 3 kemungkinan:

  • X4 dan X1 tetap di posisi
  • X1 bergeser untuk menjaga (2)
  • X4 maju menjaga (2)

Untuk kemungkinan pertama, (2) tidak terjaga dan dapat melakukan tembakan 3point. Sedangkan bila X1 bergeser untuk menjaga (2), maka bola dioper kepada (5) yang cutting ke arah ring untuk mid-range shoot atau lay-up.

Sedangkan bila X4 maju menjaga (2), maka wilayah kiri dalam akan kosong.

(5) melakukan cutting ke wilayah yang tadinya dijaga X4. Bola dioper (2) ke (5). (5) mendapat mid-range open-shot.

Kemungkinan lainnya yaitu bila defender X1 ataupun X2 tidak dalam keadaan terblok (5) atau (4), yaitu posisi berada di samping atau di depan (5) atau (4). Pada contoh di bawah X1 berada di depan (5).

Bila demikian,(5) cukup cutting ke dalam bila dibelakangi X1 atau roll and cut ke dalam bila X1 berada di sampingnya. (1) memberikan lob pass melewati X1, (4) melakukan cutting ke ring, dan (5) langsung melakukan turn around shot. Bila X5 sigap dan langsung menjaga (5) maka (5) dapat mengoper pada (4) yang sedang melakukan cutting.

Beberapa opsi quick hitter lainnya yaitu (5) dapat bermain pick and roll bersama (4). Salah satu dari mereka melakukan pick sehingga salah satu terbebas untuk kemudian (1) mengoper pada pemain yang bebas. Pemain tsb langsung melakukan jump shot. Di sini kita bisa mendapat open shot yang cukup banyak karena efek kejutan dari cepatnya penyerangan.

Bila X1 dan X2 terblok dengan baik oleh (5) dan (4), maka (1) akan terbebas dari penjagaan. (1) dapat melakukan tembakan 3point dari wilayah point, ataupun dribble maju terlebih dahulu lalu melakukan jump shot 2point.

Pentingnya Berbagi

Baru-baru ini saya ngobrol dengan teman saya. Teman saya ini biasanya jarang kesulitan dengan masalah ekonomi, karena saya tahu kalo dia rajin mencatat pengeluarannya sehari-hari untuk dikontrol sesuai dengan pemasukannya. Namun saat bertemu dia terakhir kali, dia tampak sedang kehabisan uang (atau snipet, kalo istilahnya Damas).

Saat saya tanya kenapa kok bisa snipet, dia tampak enggan menjawab. Namun setelah saya paksa, akhirnya dia mengaku bahwa uangnya habis dipinjam keluarganya. Selidik punya selidik, ternyata tidak hanya kali itu saja keluarganya meminjam uang padanya. Setidaknya bila ditotal jumlahnya hampir mencapai 3 juta menurut pengakuannya. Namun karena dia merasa keluarganya itu lebih membutuhkan maka dia relakan tabungan pribadinya tersebut.

Tidak sampai di situ saja, setelah sedikit curhat, ternyata dia suka memberikan hartanya pada orang lain. Suatu saat teman kosannya pinjam uang 1 juta karena habis tabrakan. Setelah beberapa saat dia menagih temannya tsb namun dia akhirnya menyerah karena uangnya tak kunjung dikembalikan. Pernah pula dia mengeluarkan uang dari kantongnya untuk suatu kepanitiaan, dan nominalnya mencapai 1,5 juta. Saya hanya bisa geleng-geleng mendengar pengakuannya.

Yang lebih mengharukan lagi, saat dia selesai KP, kebetulan oleh perusahaan magangnya diberi uang sangu atas kinerjanya. Kalo saat itu teman-teman saya yang habis KP biasanya foya-foya untuk gadget baru dsb, ternyata uang hasil KP dia habis untuk penunggu kosannya. Ya uang hasil kerja kerasnya disumbangkan untuk penunggu kosannya yang saat itu kebetulan sedang butuh uang demi membayar operasi anaknya.

Cerita lainnya pun banyak juga yang saya rasa menarik, seperti suatu saat dia pernah menolong orang yang minta uang di jalan. Karena orang tsb ternyata satu suku dengan dia, dia beri uang untuk membeli tiket kereta (orang itu mengaku ga punya uang untuk pulang kampung, padahal tidak berdomisili di Bandung), dan sebagainya.

Dari cerita teman saya itu, saya menyadari bahwa ternyata di zaman yang egoisme sangat tinggi seperti saat ini, masih saja ada orang-orang seperti dia, yang rela berbagi bahkan dengan orang yang tidak dikenalnya. Di saat kebanyakan teman saya memamerkan barang-barang yang dimilikinya, ada juga orang yang memilih untuk hidup berkecukupan dan menolong orang lain.

Semoga suatu saat nanti, orang-orang seperti teman saya tsb makin banyak. Dengan begitu, bangsa kita bisa saling menolong walaupun diterjang bencana yang begitu besar. Pesan yang saya petik dari cerita ini: “Pentingnya berbagi dengan orang lain”.